Sejarah Lengkap PT HM Sampoerna Tbk: Dari Awal Berdiri hingga Resmi Delisting dari BEI 2025
PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk adalah salah satu perusahaan rokok terbesar dan tertua di Indonesia. Perusahaan ini dikenal luas karena produk-produk kreteknya yang populer, seperti Dji Sam Soe, Sampoerna A, dan Sampoerna Hijau. Namun perjalanan panjang perusahaan ini tidak hanya soal bisnis tembakau, melainkan juga sejarah keluarga, transformasi perusahaan, serta keputusan besar yang membuat Sampoerna akhirnya keluar dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
Artikel ini membahas sejarah lengkap Sampoerna, mulai dari awal berdiri, masa kejayaan, proses diakuisisi Philip Morris, hingga alasan perusahaan memutuskan delisting dari BEI. Informasi ini merangkum berbagai sumber terpercaya termasuk arsip finansial, berita BEI, dan penjelasan umum yang juga sering dibahas di situs-situs edukasi seperti jendelailmu.com.
1. Awal Mula Berdirinya Sampoerna (1913–1930-an)
Sejarah Sampoerna dimulai pada tahun 1913, ketika seorang imigran Tionghoa bernama Liem Seeng Tee merintis usaha rokok kecil-kecilan di Surabaya. Liem yang awalnya bekerja sebagai pedagang kue keliling, melihat peluang besar dalam industri kretek yang pada saat itu mulai berkembang di Jawa Timur.
Langkah penting terjadi ketika Liem meracik kretek berformula baru yang lebih kuat dan aromatik. Inilah cikal bakal merek Dji Sam Soe, yang kelak menjadi produk legendaris Indonesia. Nama “Dji Sam Soe” melambangkan angka 234 (2-3-4), yang dipercaya Liem sebagai angka keberuntungan.
Pada tahun 1930-an, bisnis keluarga terus berkembang. Pabrik manual mulai dibangun, dan banyak pekerja lokal mulai dilibatkan dalam produksi kretek. Merek Sampoerna mulai dikenal sebagai rokok kualitas tinggi yang dibuat dengan proses teliti dan bahan pilihan.
2. Ekspansi Generasi Kedua: Sampoerna Menjadi Perusahaan Kelas Nasional (1950–1980)
Pada masa generasi kedua, usaha keluarga Liem mengalami ekspansi besar. Modernisasi mulai dilakukan, meski tetap mempertahankan proses pelintingan tangan (handrolled kretek) untuk produk tertentu yang dianggap memiliki nilai seni.
Beberapa perkembangan penting di era ini:
Pabrik diperluas di Surabaya dan Malang
Merek Sampoerna A diluncurkan sebagai rokok kretek filter modern
Distribusi mulai merambah seluruh Indonesia
Perusahaan mulai membangun jaringan pemasaran profesional
Periode ini memperkuat reputasi Sampoerna sebagai salah satu pilar industri tembakau nasional.
3. Transformasi Besar: Sampoerna Masuk Bursa Efek Indonesia (1990)
Pada tahun 1990, keluarga Sampoerna membuat langkah besar dengan membawa perusahaan ke pasar modal. PT HM Sampoerna Tbk resmi listing di Bursa Efek Indonesia (waktu itu Bursa Efek Jakarta).
Tujuan go public antara lain:
memperbesar modal untuk ekspansi
meningkatkan transparansi perusahaan
mengembangkan lini produk dan pabrik
Saat itu, saham Sampoerna mendapatkan respons positif dari pasar, mengingat brand-nya sudah sangat kuat di Indonesia.
4. Masa Kejayaan Awal 2000-an
Memasuki tahun 2000, bisnis Sampoerna terus tumbuh pesat. Merek Sampoerna A Mild bahkan menjadi salah satu rokok paling laris di Indonesia, dengan pangsa pasar besar pada segmen rokok ringan (mild).
Faktor yang membuat Sampoerna semakin berjaya:
strategi pemasaran kuat dan kreatif
kualitas produksi stabil
inovasi produk
jaringan distribusi nasional yang rapi dan efisien
Perusahaan ini menjadi salah satu aset paling berharga di BEI dan dikenal sebagai saham defensif—maksudnya kinerjanya stabil meski ekonomi sedang naik turun.
5. Akuisisi Besar oleh Philip Morris International (2005)
Tahun 2005 menjadi titik sejarah penting bagi Sampoerna. Perusahaan raksasa rokok dunia, Philip Morris International (PMI), mengakuisisi mayoritas saham Sampoerna.
PMI melalui anak perusahaan PT Philip Morris Indonesia membeli sekitar 97% saham Sampoerna, menjadikannya pemegang saham pengendali.
Dampaknya:
Sampoerna mendapat akses teknologi dan standardisasi internasional
sistem manajemen dimodernisasi
efisiensi produksi meningkat
produk Sampoerna mulai dipasarkan ke banyak negara
Namun di sisi lain, akuisisi ini menimbulkan kekhawatiran publik tentang apakah Sampoerna masih menjadi perusahaan lokal atau berubah menjadi perusahaan multinasional.
6. Periode Setelah Akuisisi: Penataan Besar-besaran (2005–2009)
Setelah diambil alih PMI, perusahaan melakukan penataan ulang:
meningkatkan standar mutu pabrik
restrukturisasi manajemen
pembaruan lini produksi modern
optimalisasi biaya dan tenaga kerja
Selama periode ini, saham Sampoerna masih diperdagangkan di BEI, namun perlahan jumlah saham publik (free float) semakin kecil karena PMI terus meningkatkan porsi kepemilikan.
7. Mengapa Sampoerna Keluar dari BEI? (2010)
Pada tahun 2010, Sampoerna secara resmi delisting atau keluar dari Bursa Efek Indonesia.
Ada beberapa alasan utama:
1. Free Float Terlalu Kecil
Free float saham Sampoerna menurun hingga jauh di bawah standar BEI. Ketika publik hanya memiliki sedikit saham, perdagangan menjadi tidak likuid.
PMI memegang hampir seluruh saham, membuat listing menjadi tidak efektif.
2. Efisiensi Perusahaan
Sebagai perusahaan multinasional, PMI memilih struktur perusahaan yang lebih efisien tanpa harus mengikuti regulasi pasar modal Indonesia yang cukup ketat.
3. Tujuan Internal PMI
PMI ingin pengambilan keputusan lebih cepat, tanpa perlu mengikuti kewajiban keterbukaan publik seperti laporan triwulanan atau paparan publik.
4. Strategi Konsolidasi
PMI menilai bahwa Sampoerna akan lebih efektif dikelola secara internal sebagai perusahaan tertutup.
Akhirnya pada pertengahan 2010, Sampoerna resmi menghapus pencatatan saham (voluntary delisting) dari BEI.
8. Setelah Delisting: Posisi Sampoerna Saat Ini (2011–Sekarang)
Meskipun sudah tidak lagi menjadi perusahaan publik, Sampoerna masih menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia. Saat ini:
memiliki ribuan karyawan
menjalankan pabrik di beberapa kota
tetap menguasai pangsa pasar nasional
produk A Mild dan Dji Sam Soe masih menjadi brand terpopuler
Sampoerna tetap tercatat sebagai penyumbang pajak dan cukai terbesar di Indonesia.
9. Dampak Delisting bagi Publik dan Pasar Saham
Ada beberapa dampak bagi investor:
1. Pemegang Saham Publik Dibeli Kembali
Investor publik mendapat tender offer dari Philip Morris sebelum delisting, sehingga mereka dibayar dengan nilai tertentu.
2. Hilangnya Salah Satu Saham Blue Chip Lokal
Sampoerna dulu adalah saham stabil. Setelah keluar, investor tidak bisa lagi membeli sahamnya di BEI.
3. Contoh Kasus Delisting Sukses
Sampoerna menjadi contoh bahwa perusahaan yang sukses pun bisa memilih keluar dari pasar modal demi efisiensi internal.
10. Peran Industri Tembakau di Indonesia
Industri tembakau memiliki kontribusi besar:
pendapatan cukai triliunan rupiah untuk negara
lapangan kerja bagi jutaan orang
perputaran ekonomi daerah melalui tembakau dan cengkeh
Namun industri ini juga sering jadi perdebatan karena faktor kesehatan dan regulasi yang terus diperketat. Sampoerna menjadi salah satu perusahaan yang mengikuti ketentuan pemerintah mengenai iklan, produksi, hingga CSR kesehatan masyarakat.
Kesimpulan
Perjalanan PT HM Sampoerna Tbk adalah salah satu cerita bisnis terbesar di Indonesia. Dimulai dari usaha kecil milik Liem Seeng Tee pada tahun 1913, perusahaan ini berkembang menjadi raksasa nasional, masuk ke BEI pada 1990, diakuisisi oleh Philip Morris International pada 2005, hingga resmi delisting pada 2010.
Keputusan keluar dari BEI bukan karena bangkrut, melainkan pilihan strategis perusahaan untuk menjadi lebih efisien di bawah kepemilikan penuh PMI.
Hingga saat ini, Sampoerna tetap menjadi salah satu pemain utama industri rokok Indonesia dan dikenal luas oleh masyarakat, termasuk sering dibahas pada media dan situs edukasi populer seperti jendelailmu.com yang menjelaskan sejarah perusahaan-perusahaan besar Indonesia.
# Rokok membunuhmu
Komentar